DI tengah teriknya sang surya, di taman komplek Sekolah Kristen Makedonia (SKM) Ngabang, Kalimantan Barat, seorang tua sedang asyik bekerja. Dengan sabit ia memotong rumput, merapikan tanaman, memungut sampah, lalu memasukkannya ke dalam gerobak sampah. Dia bernama Aji Darsono, petugas kebersihan di SKM. Dari namanya orang pasti mengira kalau dia berasal dari Jawa. Namun siapa sangka kalau pria yang mengaku lahir di bulan Agustus 1952 itu adalah orang Dayak asli.
Meski sudah 6 tahun bekerja di SKM, tak pernah terbersit di benaknya untuk mengundurkan diri. Alasannya, di tempat inilah (SKM) dia memperoleh arti sebuah kedamaian. “Di sinilah perasaan senang dan suka cita selalu saya dapatkan. Sejak pertama saya bekerja di tempat ini, tak sekalipun saya mengeluh. Semua yang ada di SKM membuat saya bahagia,” demikian Darsono. Dia juga yakin bahwa Tuhan telah menuntunnya ke sekolah yang dikelola Yayasan MIKA itu, untuk bekerja sekaligus melayani Dia dengan segala apa yang dia miliki.
Ayah dari Rajuliana dan suami dari Ringgit ini yakin betul bahwa segala sesuatunya sudah diatur Tuhan. “Sesuatu itu indah jika kita telah sesuai dengan apa yang Tuhan rencanakan,” katanya dengan suara serak namun terdengar berwibawa.
Selanjutnya pria yang beribadah di Gereja Setia Indonesia (GSI) Jemaat Tiatira,…………………ini menceritakan mengapa dia setia bekerja di SKM. “Dari dulu saya memang seorang yang suka dengan kesibukan. Bagi saya kesibukan itu tak sekadar sebuah aktivitas, tapi juga hiburan,” katanya. Sebelum bekerja di SKM, dia bekerja di perkebunan kelapa sawit. “Dekat-dekat sini, Jak,” kata Darsono dengan logat khas Melayu Kalimantan, sambil menunjuk ke satu arah. Meski gaji minim Darsono bertahan bekerja di perkebunan sawit, demi kelangsungan hidup keluarga. Namun akhirnya dia hengkang dari sana karena tidak merasakan damai sejahtera.
Darsono kemudian pindah kerja ke SKM sebagai petugas kebersihan. Entah apa alasannya memilih SKM, yang jelas Darsono merasa dipimpin Tuhan untuk bekerja di sana, meski gaji relatif sama dengan yang dia dapat di tempat kerja sebelumnya. Selama bekerja di SKM, tapi tak pernah sedikit pun kata protes dan gerutuan keluar dari mulutnya atas apa yang dia terima. Di benaknya selalu tertanam bahwa dengan bekerja di SKM, meski sebagai seorang upahan, dan buruh serabutan, dia percaya bahwa apa yang sedang dikerjakannya adalah satu bentuk pelayanan kepada Tuhan. Pernyataan ini diulang-ulang, untuk menyatakan penegasan dan tanda suatu hal yang penting dalam hidupnya.
Enam tahun, bukanlah waktu yang pendek bagi seorang tua yang harus bekerja dengan keras agar bisa menghidupi istri dan anak semata wayangnya yang masih duduk di bangku SMU. “Puji Tuhan, sekarang gaji saya bisa cukup untuk menghidupi keluarga. Saya yakin tanpa Tuhan saya tak akan mampu bertahan. Apalagi sampai bisa menyekolahkan anak,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca, meski ditutupi dengan menundukkan muka sesaat. Keluarga pun sangat mendukung Darsono bekerja di SKM. Bahkan istrinya pun kerap merasa senang mendengar cerita sukanya yang penuh dengan canda tawa dengan anak-anak dan guru-guru SKM. Inilah yang membuatnya terus bersemangat dan termotivasi.
Sekali mendayung sampan dua tiga pulau terlampaui. Sembari bekerja, tapi juga sekaligus mengaktualisasi diri bagi Tuhan dan sesama. ? Slamet Wiyono