Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suara Pinggiran

Sujatmiko, Pemijat Refleksi Jalanan Ke Istana pun Kerap Diundang Memijat

Posted : 19 September 2008
reflexologist_therapeutic_foot_mass.jpg

JAM sudah hampir menunjuk ke angka pukul 01.00 dini hari. Tapi  jari-jemari Sujatmiko (48) masih “gentayangan” di punggung seorang pria. Tapi ini bukan adegan mesum antarsesama pria, lho. Sujatmiko sedang mengurut punggung badan pasiennya itu untuk melemaskan urat-uratnya agar peredaran darah lancar. Dengan lincah jemarinya  meliuk ke atas dan bawah tubuh pasien itu tanpa berhenti sedetik pun. Dia terlihat penuh konsentrasi. Jari-jari kedua tangan Koko—sapaan dia—begitu lincah memijat kuat ke sejumlah bagian tubuh dan kaki pasien sambil mencari titik-titik saraf yang diduga menjadi penghambat aliran darah itu.

Kadang, pasien seperti meronta saat Koko memijat titik tertentu yang sakit. “Dia baru jatuh dari motor,” kata Koko kepada REFORMATA. Tubuh sang pasien dipoles dengan obat cairan campuran rempah-rempah seperti jahe merah, daun sereh, jeruk, garam dan lada hitam. “Rempah-rempah ini mampu mengoptimalkan pengobatan, menetralisir peredaran darah, saraf dan nadi. Jadi, sangat bagus untuk pengobatan,” ungkap pria yang tinggal di Jalan Percetakan Negara RT 9/ RW 5, Rawasari, Jakarta Pusat ini.

Selama hampir dua jam, Koko menuntaskan pijatan refleksi kepada pasien yang masih anak muda itu. Sementara, seorang pasien lain yang masih menunggu giliran sampai tak kuasa menahan ngantuk. Koko menumpang tempat di emperan depan toko yang sudah tutup sejak pukul 19.00. Malam itu, dia memang “kebanjiran” orang yang pengen mendapat layanan pijatan refleksinya. Banyak yang sudah lama menanti kedatangannya. Meski akhirnya dia memijat sampai larut malam, tubuh dan wajah Koko tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Bahkan, dirinya siap meladeni sampai menjelang pagi. “Tidak pakai batas waktu. Saya sudah biasa pijat orang sampai pagi,” ungkap Koko yang sehari-hari menggunakan sepeda ini. Bahkan, selesai buka praktek malam, dia masih sanggup meladeni panggilan lain tanpa istirahat. Jika waktunya senggang, siangnya dia mangkal di sebuah lokasi di Utan Kayu. Pada 2003-2005, pria kelahiran Solo, 20 Agustus 1959, ini pernah memilih tempat mangkal di daerah Kemayoran. Namun, kini dia memilih untuk mangkal di tempat lama, Jl Suprapto dan Utan Kayu dengan alasan lebih rame.

Begitulah kehidupan Koko sampai sekarang. Jadi, dia menjalani profesi tersebut hanya siang dan malam hari. Sementara waktu pagi dimanfaatkan untuk tidur dan kumpul bersama keluarga. Bapak empat anak ini masih menjadi tulang punggung keluarga mengingat dua anaknya masih sekolah. “Saya tidak pernah lupa bersyukur kepada Tuhan Yesus karena saya diberikan kesehatan. Kalau sehat kita bisa cari uang untuk makan dan sekolahkan anak,” kata jemaat Gereja Katolik Santo Lukas, Sunter, Jakarta Utara ini.

 

Sembuhkan satu keluarga

Berkat keahlian memijat, pria lulusan SMP ini tidak terlalu pusing memikirkan kebutuhan hidup keluarga. Setiap pulang dia bisa membawa uang hasil memijat yang jumlahnya cukup memadai. Sekali mijat saja, tarifnya berkisar Rp 35 ribu. Itu pun tergantung jenis penyakitnya. “Biasanya mereka sering beri lebih,” katanya. Koko mengaku, ratusan jenis penyakit dapat disembuhkan lewat pijatan refleksinya itu. Di antaranya: hipertensi, asam urat, diabet kering dan basah, impoten, ginjal, maag, jantung lemah, migren, dan lain-lain. “Saya pernah sembuhkan satu keluarga sekaligus,” kenang suami Marsih ini. Menurutnya, setiap penyakit mudah dideteksi. Jika sakit jantung berat dan ringan, dapat dilihat dari kondisi kepala, tangan dan telapak kaki.

Dia menambahkan, keahlian memijat yang diwarisi dari orang tuanya ini telah menolong banyak orang. Dia punya banyak pelangganan tetap. Polisi dan tentara pun sering memakai jasanya. Bahkan dirinya sering diundang ke Istana untuk memijat pejabat. Meski demikian, tidak jarang ada orang yang sirik. Tempat mangkalnya di Jl Suprapto sering dikencingi dan ditaruh bungkusan berisi kotoran manusia.   Herbert Aritonang  

54
26 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 4.9676 sec | TOP
Online Support :