SEGEROMBOLAN ternak babi di kandang berukuran 4 x 6 meter itu mendadak riuh dan panik begitu Nimrot Silitonga (42) meloncat pintu kandang dan terjun ke dalam kandang itu. Puluhan babi berbulu putih dan hitam yang ada di kandang itu seperti ketakutan dan meringkuk di sudut-sudut yang gelap. Hewan-hewan yang dagingnya lezat itu berusaha menghindar dari sergapan Nimrot. Pria asal Tarutung, Sumatera Utara itu memang ingin menangkap hewan yang rata-rata berusia beberapa bulan itu.
Kandang babi itu berada di kolong rumah milik Ny Silitonga boru Gultom, persisnya di Jalan Letjen Sutoyo, Gang Bersama, Rt 8/9 No 27 Cililitan--Mayasari, Jakarta Timur. Pemilik rumah dikenal sebagai penjual daging babi dan anjing. Tapi siang itu, Nimrot bukan hendak menangkap lalu menyembelih hewan berkaki empat itu, namun hanya sekadar memastikan apakah anak-anak babi tersebut memiliki berat badan yang bagus. Nimrot bertugas mengawasi babi-babi tersebut supaya selalu dalam kondisi prima. Dia tidak hanya rutin memeriksa kondisi fisik binatang itu, namun juga memberi makan setiap hari. “Babi-babi ini dijual kiloan. Semakin berat babinya, semakin mahal harganya,” katanya. Dia mengaku sudah bekerja sejak tahun 1985. Seekor babi yang masih hidup, lanjut Nimrot, per kilo dijual Rp 23 ribu. Sedangkan dalam bentuk daging lebih mahal yakni Rp 32 ribu per kilo. Harga jual daging babi yang murah menyedot banyak pembeli, yang umumnya pemilik rumah makan khas Batak. Setiap subuh, puluhan pembeli yang umumnya pemilik rumah makan khas Batak itu membeli daging babi di tempat itu. Setiap hari Sabtu dan Minggu, pembeli bisa mencapai ratusan orang. Selain Nimrot, masih ada beberapa orang yang bekerja di sana. Para pekerja itu, termasuk Nimrot, masih memiliki hubungan keluarga dengan pemilik usaha daging tersebut. Meski masih keluarga dekat, Nimrot tetap bekerja maksimal. Bersama pekerja lain, mereka secara bergiliran merawat ternak-ternak yang didatangkan dari luar Jakarta itu. Kerja keras demi keluarga Rumah Nimrot ada di Cileungsi, Bogor. Namun karena tidak bisa meninggalkan pekerjaan, dia harus tinggal di tempat kerja. Itu memang pilihan sulit bagi Nimrot. Pria kelahiran Tarutung, 14 April 1966, ini harus rela jauh dari keluarga, terutama menahan rasa rindu terhadap ketiga anaknya. Baginya, pilihan itu diambil demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga. “Saya senang bekerja di sini,” ujarnya kepada REFORMATA. “Jika Tuhan mengendaki, suatu saat nanti saya ingin membuka usaha yang sama di tempat tinggal saya,” urai Nimrot penuh harap. Ritme kerja Nimrot dan kawan-kawan berbeda dengan karyawan pada umumnya. Pukul 24.00, dia bersama rekan kerjanya harus bekerja sampai pukul 09.00. Selesai kerja, dia tidur sampai sore, dan tidur kembali pada pukul 20.00 sampai pukul 24.00. Begitulah rutinitas pekerjaan bapak tiga anak ini. Setiap dua minggu, dia menerima upah sebesar Rp 600 ribu. Dia juga mendapat libur 3 hari. Hari-hari libur itu dia “pulang kampung” menengok istri dan ketiga anaknya. Beban hidup Nimrot sedikit ringan karena rumahnya sudah milik sendiri. Dia bertekad akan menyekolahkan ketiga anaknya sampai sarjana. “Saya tidak ingin nasib mereka seperti saya. Pendidikan mereka harus lebih baik lagi,” tutur pria lulusan SMA yang pernah bercita-cita menjadi polisi ini. ? Herbert Aritonang