MENJELANG larut malam, suasana di Kompleks Perumahan Cengkareng RT 11/RW 15, Jakarta Barat, berangsur senyap. Beberapa warga yang tadi bercengkerama serta anak-anak yang berkerumun di gang-gang, satu-persatu bubar dan menghilang di balik pintu rumah masing-masing. Lewat pukul 23.00, suasana benar-benar hening. Sementara warga mulai terlelap, para petugas keamanan atau hansip, mulai menurunkan plang besi untuk menutup jalan ke kompleks perumahan yang dihuni sekitar 600 kepala keluarga (KK) itu.
Markus Daud Rambitan (34), salah seorang hansip yang bertugas malam itu tampak bersiaga. Bersama tiga rekannya, dia berjaga di salah satu posko, dengan perlengkapan berupa pentungan dan senter. Beberapa menit kemudian, keempat pria berseragam hansip dan topi itu beranjak dari posko. Keempat petugas yang memecah diri menjadi dua tim itu berkeliling mengawasi rumah-rumah warga. Begitulah aktivitas mereka setiap malam.
Setiap malam mereka bekerja dari pukul 20.00 sampai 05.00. Kepada REFORMATA yang kebetulan sedang berada di sana malam itu, Markus mengatakan kalau mereka bertugas setiap malam tanpa libur. “Beberapa tahun belakangan ini, lingkungan sini tergolong aman dan jarang terjadi aksi-aksi pencurian,” kata pria berdarah Manado yang lahir di Jakarta, 4 Maret 1976 ini. Meski demikian, mereka tidak pernah terlena, dan selalu siaga menjaga segala kemungkinan adanya gangguan dari orang yang bermaksud tidak baik. Tidak jarang warga menyampaikan terima kasih atas dedikasi mereka.
Menurut Markus, sebelum 2003, komplek tersebut terbilang rawan. Aksi pecurian kerap terjadi. Biasanya, maling yang tertangkap berasal dari luar wilayah tersebut. Saat itu, harta warga yang sering dicuri adalah burung peliharaan, jemuran, dan sepeda. Warga dan hansip yang bersinergi menciptakan rasa aman berhasil menangkap beberapa maling. “Kami hanya bertugas menangkap. Setelah itu, kita serahkan kepada ketua RW. Terserah RW saja apakah maling itu mau diserahkan ke polisi atau tidak,” ujar lulusan SMA itu. Pemakai dan pengedar narkoba pun sering mereka amankan. “Jika ada pengguna narkoba yang tertangkap, kita pasti giring mereka ke polisi,” kata pria bertubuh langsing ini. Tidak jarang pula Markus harus berhadapan dengan preman-preman setempat, namun persoalan biasanya dapat teratasi dengan sikap ramahnya.
Tak takut hantu
Markus tergolong rajin dan memiliki tanggung jawab. Dia tidak pernah melalaikan tugas. Dia memutuskan menjadi hansip karena punya tanggung jawab menjaga keamanan lingkungan. Sebelum menjadi hansip dia bekerja di pabrik. Menjadi hansip bukanlah cita-citanya. Berhubung belum dapat pekerjaan yang lebih layak, dia menjadi hansip, dan akan menjalaninya penuh tanggung jawab. “Daripada nganggur, lebih baik menjaga keamanan lingkungan sendiri,” kata Markus. Dia mengaku mendapat upah sebesar Rp 350 ribu. Kendati upah sebesar itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan hidupnya, namun sebagian gajinya masih diberikan kepada orangtuanya yang juga tergolong susah.
Pria yang sedang bergumul untuk mendapatkan pasangan hidup itu juga dikenal pemberani. Selama lima tahun menjadi hansip telah membentuknya menjadi pria yang tak gentar dengan pelaku kejahatan apa pun. Dia juga tidak pernah gentar dengan cerita-cerita beraroma mistis yang sering dikaitkan dengan lokasi perumahan tersebut.
Berdasarkan cerita, di komplek perumahan tersebut banyak setan bergentayangan. Konon banyak warga dan hansip yang pernah melihat makhluk gaib berwujud wanita cantik, dan suka nongkrong di salah satu pos jaga. Markus tidak percaya dengan isu itu. Bahkan untuk membuktikannya dia pernah sengaja menunggui pos itu sendirian sampai pagi agar bisa bertemu dengan hantu cantik itu, tapi tidak pernah datang. “Saya tidak takut karena saya yakin Tuhan Yesus menyertai saya,” kata jemaat Gereja Bethel Indonesia Sehrapin Perum Cengkareng ini. ? Herbert Aritonang