Rianto Siregar (40) tak kuasa menahan lelah setelah menempuh puluhan kilometer dengan berjalan kaki sambil menjinjing 2 bungkusan plastik besar yang beratnya masing-masing 5 kilogram. Sesekali dia berteduh sebentar lalu melanjutkan perjalanan. Siang yang panas terik itu, Rian—demikian perempuan Batak ini disapa—berjalan ditemani anaknya bernama Andi (umur?). Sepanjang perjalanan, kepala ibu dan anak itu tidak ditudungi topi dan dibiarkan disengat sinar matahari.
Saat berteduh, matanya menatapi anak satu-satunya itu dengan penuh iba. “Ini anak tunggal saya. Saya sebenarnya tidak tega bawa dia keliling berjualan. Tapi tidak mungkin saya tinggalkan dia sendirian di rumah, karena suami saya juga keluar rumah cari uang,” katanya kepada REFORMATA saat ditemui di Jalan STM Walang Jaya, Kelurahan Tugu Selatan, Jakarta Utara. Baju Rian tampak basah kuyup karena derasnya keringat keluar dari tubuhnya. Sementara sang anak hanya merengek minta pulang dan jajan.
Sejak beberapa tahun lalu, Rian menjajakan beraneka ikan kering asin asal Medan, Sumatera Utara. Perempuan lulusan SMP ini membeli ikan-ikan itu dari Pasar Senen, Jakarta Pusat, tiga kali seminggu. Jenis ikan yang dibeli antara lain teri nasi, buntiau, ikan gepeng, ikan kepala batu, beserta sayur-sayuran. Setelah itu, setiap pagi pukul 06.00, Rian berkeliling. “Hari Minggu juga berjualan, tapi setelah selesai ibadah pagi,” kata jemaat HKBP Semper, Jakarta Utara ini.
Dia menjadi pedagang ikan asin Medan keliling lantaran belum ada seorang pun di sekitar tempat tinggalnya yang melakukan pekerjaan tersebut. “Daripada menganggur, lebih baik kita cari pekerjaan sampingan agar bisa bantu suami cari uang,” ungkapnya. Meski keuntungan yang didapat masih sedikit, belum ada niat untuk beralih ke usaha lain. Sebelum itu, Rian pernah bekerja sebagai karyawan pabrik. Namun karena terganjal urusan keluarga, dia pun mengundurkan diri dari pabrik. Tidak tahan menganggur lama, ditambah desakan kebutuhan hidup yang semakin besar, ide berjualan keliling akhirnya muncul. Banyak warga menaruh simpati atas perjuangannya.
Tiga tahun sudah Rian menjadi penjaja ikan asin, dan puluhan warga telah menjadi pelanggannya. Meski usaha yang dilakoni cukup berat dan berisiko, namun semangatnya menjalankan profesi itu tidak kendur. “Ini saya kerjakan demi anak,” ungkapnya. Meski dia pernah mengalami kecelakaan, ditabrak sepeda motor saat berjualan, semangatnya tidak surut.
Kejadian naas lain, saat pembulu darah di salah satu paha mengalami pembengkakan dan sakit luar biasa hingga berobat ke rumah sakit dengan biaya ratusan ribu dan harus beristirahat selama satu bulan. “Ini karena aku selalu jalan jauh,” ungkapnya tentang sakit pembuluh darah itu. Meskipun keuntungan yang dia dapat tidak begitu besar, namun dia selalu bersyukur. “Lumayan untuk kebutuhan makan sehari-hari,” kata Rian.
Soal membayar sewa rumah kontrakan, dia mengandalkan penghasilan sang suami yang kerja secara serabutan. “Kami tidak tahu bagaimana nanti biaya sekolah anak kami,” tutur perempuan kelahiran Tanojawa, Sumatera Utara, 2 Agustus 1968 ini.
Pantang menyerah
Tinggal di pemukiman padat penduduk, Rian justru melihat sebuah peluang. Salah satu yang mendongkrak semangatnya berjualan lantaran di lingkungan tempat tinggalnya kebanyakan etnis Batak. Sebagai sesama orang Batak perantauan, dia tahu kalau orang-orang asal Batak sering “merindukan” ikan asin khas Medan.
Rian pun berjibaku menawarkan ikan kering asin tersebut tanpa minder. “Banyak yang beli. Tidak hanya orang Batak saja, orang suku lain juga banyak yang suka,” ujarnya sumringah. Dia yakin, dilandasi tekad tanpa pantang menyerah, dibarengi dengan doa meminta pertolongan Tuhan, kehidupannya akan selalu diberkati. ? Herbert Aritonang