Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suara Pinggiran

Imanuel Fernandez, Penjual Sate, Bekerja Jujur dan Tekun Berdoa

Posted : 09 Nopember 2008
sate nyaris mateng_resize.jpg

JARUM jam mendekati angka 23.30, hampir tengah malam. Situasi lalu-lintas di  Jalan Tanjung Barat Selatan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan masih ramai namun lancar. Meski malam kian larut, suasana di sepanjang jalan tersebut—khususnya trotoar depan kampus Universitas Pancasila—masih ramai dengan orang yang lalu-lalang. Kondisi itu dimanfaatkan sejumlah penjual makanan.

Di sebuah warung sate kambing dan ayam, seorang pemuda tampak mengipas-ngipas puluhan tusuk sate yang ditaruh di atas perapian. Pemuda usia 25 itu bernama Imanuel Fernandez. Meski dinginnya malam makin menusuk tulang, pria kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) 25 Desember 1984, ini tetap bersemangat. Staminanya tetap prima, sedikit pun dia tidak menunjukkan kantuk. Pria yang akrab disapa Fernandez ini tak henti mengibas-ngibaskan kipas ke atas bara api. Kepulan asap tebal putih pun membumbung tinggi menebar aroma lezat, memancing selera. Malam itu, dia dan beberapa rekannya sibuk melayani  sejumlah pembeli. Sebagian pembeli dengan sabar menunggu sambil tetap nangkring di atas sadel sepeda motor, atau duduk di jok mobil, sambil memperhatikan Fernandez yang bekerja dengan gesit.

Di warung seluas 4 x 6 meter itu beberapa orang pelanggan asyik mencicipi sate olahan Fernandez, sambil makan nasi. Fernandez juga menjual beraneka jenis minuman ringan. Raut wajah pria lajang itu tak menunjukkan kelelahan meski sejak pagi meladeni ratusan pembeli. “Saya senang melihat banyak orang membeli. Setiap harinya saja di atas seratus orang kami layani. Karena mereka suka sate buatan kita, rasa capek jadi hilang,” ucapnya sumringah. Dia dibantu beberapa teman, jadi tugas Fernandez hanya mengipas-ngipas.

Kendati pekerjaan itu sudah dilakoni selama 5 tahun, saat ini dia belum punya niat mencari pekerjaan lain. Sebelum merantau ke Jakarta, Fernandez bekerja sebagai sopir di Kupang. Karena pekerjaan itu dinilainya kurang cocok, bungsu dari empat bersaudara ini hijrah ke Jakarta, dengan tujuan mengubah nasib. Beruntung, dia bertemu seorang pemuda asal Sumatera, yang mengajaknya bekerja di warung sate. “Saya bersyukur bisa mendapatkan kesempatan cari uang. Honor yang saya dapat tiap bulan, lumayan untuk mencukupi keperluan sehari-hari,” kata jemaat Gereja Katolik St. Ave Maria, Pasarminggu, Jakarta Selatan, ini.

 

Diminati  

Meski pelanggan tahu dia orang Kupang, minat pembeli tetap tinggi. Banyak teman segereja yang sesekali mampir di warung sate itu menyatakan kekagumannya karena masyarakat yang menggemari sate olahannya berasal dari beragam suku. Pasalnya, mereka berpendapat  berjualan seperti itu sangat riskan lantaran penjualnya orang kristiani. Umumnya, penjual sate selalu dimonopoli orang Madura atau Padang. Namun, kekhwatiran seperti itu tidak terbesit dalam benak Fernandez dan kawan-kawannya. “Yang penting kita tidak mencampurkan bahan yang aneh-aneh seperti minyak babi atau daging-daging yang diharamkan mereka. Kita hanya campur bumbu yang enak,” kata pria lulusan SMA ini.

Selanjutnya, pria yang trampil bermain bola voli dan kerap mengantar timnya meraih juara pertama di kampungnya ini meyakini ramainya orang membeli dagangan satenya karena doa. “Selama kita menjalankan pekerjaan dengan tulus tanpa ada maksud melukai perasaan orang lain dan tidak henti berdoa, pasti apa yang kita kerjakan akan diberkati Tuhan,” ungkap pria yang sedang bergumul mencari pasangan hidup ini.  ¿  Herbert Aritonang

75
15 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.8148 sec | TOP
Online Support :