Sebuah mobil angkutan kota (angkot) nyaris menyeruduk Rospita Samosir (56) saat sepeda yang dikendarainya mendadak berhenti di tikungan jalan yang tajam dan agak menurun. Angkot warna merah yang juga berhenti mendadak itu mengakibatkan sejumlah mobil dan sepeda motor yang melaju di belakang nyaris saling berbenturan juga. Setelah menengok ke belakang sebentar,
Rospita menepikan sepedanya dan kembali ke tengah jalan untuk mengambil tutup panci yang terjatuh dari sepedanya. Sementara wajah para sopir dan pengendara sepeda motor tampak menahan geram terhadap Rospita.
Pagi itu, Rospita memang ketiban sial lantaran ban sepedanya terperosok ke lubang mengakibatkan sepedanya hilang keseimbangan, dan hampir terjatuh. Gara-gara itu tutup panci tempat makanan yang dia ikat di sadel pun jatuh menggelinding ke tengah aspal. Untunglah makanan yang ada di dalam panci besar itu tidak tumpah. “Tadi saya takut terjadi apa-apa. Maklumlah sudah tua,” ucapnya kepada REFORMATA yang kebetulan berada di lokasi kejadian. Sambil merapikan panci berlapis tiga yang berantakan, Rospita tetap mengumbar senyum dan mengaku bersyukur karena selalu luput dari kecelakaan. ”Saya tidak pernah lupa meminta pertolongan dan perlindungan Tuhan Yesus setiap mau keluar rumah,” tutur jemaat HKBP Cibubur, Jakarta Timur ini.
Rospita adalah penjual mie gomak—istilah mie kuah di Sumatera Utara, khususnya di kalangan orang-orang Batak. Rospita menjual mie ini di sekitar wilayah Kelapa Dua Wetan dan Pondok Rangon, Jakarta Timur. Keadaan ekonomi memaksa ibu enam anak ini berkeliling untuk menjajakan mie yang juga dia masak sendiri itu.
Sebagai jajanan populer di Sumatera Utara, umumnya peminat jualan Rospita adalah masyarakat Batak juga. Tapi tidak sedikit warga dari suku lain yang menyukai dagangannya. Keuntungan yang didapat hanya sekitar Rp 20 ribu, namun risiko pekerjaannya juga besar, mengingat dirinya sering mengayuh sepeda di jalan raya yang penuh kendaraan bermotor. “Apa lagi yang bisa saya kerjakan selain jualan ini. Yang penting kita tidak lupa dekatkan diri kepada Tuhan agar dilindungi,” tutur Rospita yang sudah berjualan mie gomak selama 5 tahun terakhir.
Meski perjuangannya cukup berat, Rospita senantiasa bersyukur dan ramah terhadap siapa pun. Meskipun situasi dan kondisi kurang menyenangkan, Rospita tak pelit mengumbar senyum pada semua orang yang dikenal. “Jika kita pikir terus masalah kita, toh tidak bikin masalah selesai. Masalah saya sebenarnya banyak: mikirin suami yang sakit menahun, anak yang minta kuliah dan satu anak lagi ingin menikah,” ungkap nenek lima cucu ini. Sifat ceria yang terus dia perlihatkan, membuat orang-orang memanggilnya si “ompung gembira”.
Kendati capek, ada hal lain yang membuat batinnya senang yakni ke mana pun dia pergi berjualan, anjingnya selalu setia mengawal. Kendati anjing yang dipanggil “Jibo” ini pernah ditabrak hingga kakinya pincang, namun anjing jantan berusia tiga tahun tersebut tak mau jauh dari Rospita. “Dia (Jibo) tidak galak atau suka mengganggu orang,” tutur Rospita tentang anjingnya yang setia itu.
Rospita adalah salah satu perempuan paruh baya yang belum beruntung dari segi ekonomi. Semestinya dia bisa menikmati masa tua di rumah berkumpul bersama anak dan bercengkerama dengan cucu-cucu, namun keinginan ini tampaknya belum dapat terwujud. Situasi dan kondisi membuat dia tetap bekerja meskipun anak-anaknya sudah ada yang bekerja.
Dia tetap berjualan mie gomak karena banyak kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Salah satu ialah biaya berobat rutin sang suami yang sakit komplikasi dan kakinya bengkak. Dilandasi tanggung jawabnya sebagai ibu, dia paksakan tenaga dan keringatnya terkuras demi pengabdian dan kasih sayangnya kepada suami dan anak-anak. ¿ Herbert Aritonang