Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suara Pinggiran

Mira Subandi, Penjual Susu Kedelai,Hidup Prihatin, Tapi Bahagia

Posted : 09 Januari 2009
DINI hari itu, atau sekitar pukul 03.00, suasana masih gelap dan hening. Kebanyakan penduduk Jakarta tentu masih terlelap dibuai mimpi indah. Namun pada jam-jam segitu, Mira (58) justru sudah beranjak dari tempat tidur, dan bergegas menuju dapur. Tanpa menunggu lama-lama, dia  menapis sepanci kacang kedelai yang dicuci dan direndamnya sejak pukul 21.00 tadi malam sebelum dia tidur.

Selanjutnya dia memasukkan kacang kedelai itu ke blender, lalu digiling. Setelah biji-bijian bahan baku tempe itu lumat, dia menuangnya ke panci lalu diperas dan disaring. Selanjutnya air hasil perasan yang sudah disaring itu dimasak hingga matang. Jadilah susu kedelai. Minuman yang sangat menyehatkan badan itu dibiarkan dulu beberapa lama sampai dingin, untuk selanjutnya dimasukkan ke beberapa plastik kecil, ukuran setengah kilogram.  

Pagi harinya, perempuan keturunan Tionghoa bernama lengkap Mira Subandi ini menitipkan susu-susu kedelai racikannya itu kepada adik perempuannya yang berjualan makanan kecil. Sang adik berkeliling ke pasar dan sekolah-sekolah menjajakan dagangannya, termasuk susu kedelai titipan Mira. Susu kedelai dijual seharga Rp 1.000, per bungkus. “Kadang-kadang dijual Rp 2.000,- untuk tiga bungkus,” kata Mira yang juga ikut berjualan sendiri.

Kadang mereka harus “bersaing” dengan pedagang susu kedelai lain yang sama-sama mangkal pada satu lokasi yang sama. Persaingan dagang itu memang sering membuat hati miris, terlebih jika pembeli tidak banyak. Namun, kemirisan itu tidak berlangsung lama lantaran imannya percaya bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan hidupnya kesusahan. “Teman saya itu sebenarnya melanggar etika berdagang. Tapi saya yakin berkat Tuhan tidak pernah menghilang,” katanya teguh.

Itulah potret kehidupan Mira selama puluhan tahun sebagai pembuat dan penjual minuman susu kedelai. Mira tinggal di pemukiman padat di Jalan Cendrawasih, Cengkareng, Jakarta Barat. Ibu satu anak ini juga menjual kue lapis sagu yang diberi nama “pepe”. Kue lapis yang dibungkus plastik dan dijual dengan harga Rp 500,- itu dibuat pada sore hari. Keuntungan yang didapat hanya berkisar Rp 30 ribu per hari, menurutnya kurang sepadan dengan tenaga membuat susu kedelai dan kue lapis tiap hari yang begitu menguras energi dan pikiran Mira. “Kurang lebih ada 60 plastik yang saya bikin. Kadang banyak gak laku. Sisanya saya berikan kepada keponakan,” kata Mira yang akrab disapa Oma. Dulu, perempuan kelahiran Jakarta, 20 Desember 1950, ini pernah bekerja sebagai penjahit di pabrik garmen. Namun, pekerjaan itu berhenti lantaran pabrik tempat dia bekerja bangkrut.

 

Kuat karena Yesus

Dalam meniti perjalanan hidupnya, Mira tak jarang melewati “kerikil” tajam. Di tengah himpitan ekonomi keluarga, sang suami meninggal pada 1987 karena sakit ginjal. Sejak itu, perempuan yang pernah bercita-cita menjadi tentara ini menjadi tulang punggung keluarga, termasuk membesarkan dan membiayai anak lelaki semata wayangnya. Sepeninggal suami, Mira banting tulang menjadi penjahit di pabrik sekaligus menjual susu kedelai. Lantaran pabrik bangkrut, Mira hanya berkonsentrasi di rumah melanjutkan usaha susu kedelainya sambil mencari usaha lain demi menambal kebutuhan hidup. Belakangan dia juga membuat kue lapis.

Hidup dalam kesederhanaan, tidak membuatnya merasa menderita, apalagi putus asa. Kuncinya, “Sejak saya sungguh-sungguh menyerahkan hidup ini kepada Tuhan Yesus, tak ada sedikit pun kekhawatiran dalam hati saya,” ucap jemaat Gereja Kristen Baptis Jakarta (GKBJ) Cendrawasih, Cengkareng, Jakarta Barat, ini. Setiba di rumah, sepulang dari berjualan, kebahagiaan menanti lantaran cucu tercinta sudah menanti. Kebahagiaannya begitu meluap terutama bila sedang bersama cucu yang manis dan lucu.  ?  Herbert Aritonang

59
26 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 12.6524 sec | TOP
Online Support :